Senin, 08 Juni 2009

SUMBER, BUKTI, FAKTA SEJARAH

1.Sumber Sejarah
Beberapa pendapat dari ahli
a.R. Moh Ali
Sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta berguna bagi penelitian sejarah Indonesia sejak zaman Purba sampai sekarang.
b.Zidi Gozalba
Sumber sejarah adalah warisan yang berbentuk lisan, tertulis, dan visual.
c.Muh yamin
sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.
Dapat disimpulkan bahwa sumber sejarah adalah segala warisan kebudayaan yang berbentuk lisan, tertulis, visual serta daapat digunakan untuk mencari kebenaaran, baik yang terdapat di Indonesia maupun di luar wilayah Indonesia sejak zaman Prasejarah sampai sekarang.
Sumber sejarah terbagi menjadi 3 yaitu:
a.Sumber tertulis
sumber tertulis adalah segala keterangan dalam bentuk laporan tertulis yang memuat fakta-fakta sejarah secara jelas. sumber uini dapat ditemukan pada batu, kayu, kertas, dinding gua.
b.Sumber lisan
sumber lisan adalah segala keterangan yang dituturkan oleh pelaku atau saksi peristiwa yangterjadi di masa lalu. sumber ini merupakan sumber pertama yang digunakan manusia dalam mewariskan suatu peristiwa sejarah namun kadar kebenaran nya sangat terbatas karena terntung pada kesan, ingatan, dan tafsiran si pencerita.
c.Sumber benda
Sumber benda adalah segala keterangan yang dapat diperoleh dari benda-benda peninggalan budaya atau lazim dinamakan benda-benda purbakala atau kuno. sumber ini dapat ditemukan pada benda-benda yang terbuat dari batu, logam, kayu, tanah.
Sumber sejarah dapat juga dibedakan menjadi:
a.Sumber Primer
sumber primer adalah kesaksian dari seorang saksi yang melihat peristiwa bersejarah dengan mata kepala sendiri atau saksi denganmenggunakan panca indera lain atau dengan alat mekanis yang hadir pada peristiwa itu (saksi pandangan mata, misalnya kamera, mesin ketik, alat tulis, kertas. sumber primer haruslah sezaman dengan peristiwa yang dikisahkan.
b.Sumber Sekunder
sumber sekunder adalah kesaksian dari siapa pun yangbukan merupakan saksi pandangan mata, yaitu seseorang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkan . misalnya hasil liputan koran dapat menjadi sumber sekunder karena koran tidak hadir langsung pada suatu peristiwa. peliputnya (wartawan) yang hadir pada peristiwa itu terjadi.

2.Bukti Sejarah
Bukti sejarah terbagi menjadi:
a.Bukti tertulis
Bukti tertulis miripp dengan sumber tertulis pada sumber sejarah yang memuat fakta-fakta sejarah secara jelas. bukti tidak tertulis dapat berupa cerita atau tradisi.
b.Bukti tidak tertulis
Bukti tidak tertulis sudah barang tentu tidak berwujud benda konkret, meskiopun demikian mengandung unsur-unsur sejarah. bukti tidak tertulis dapat berupa cerita atau tradisi.

3.Fakta Sejarah
Fakta Sejarah adalah data yang terseleksi yang berasal dari berbagai sumber sejarah. dalam fakta sejarah terdapat beberapa unsur, yaitu:
a.Fakta Mental
Fakta Mental adalahkondisi yang dapat menggambarkan kemungkinan suasaana alam, pikiran, pandangan hidup, pendidikan, status sosial, perasaan, dan sikap yang mendasari penciptaan suatu benda. misalnya pembuatan pembuatan nekara perunggu.
b.Fakta Sosial
Fakta Sosial adalah kondisi yang dapat menggambarkan tentang keadaan sosial di sekitar tokoh pencipta benda, seperti suasana zaman, keadaan lingkungan, dan sistem kemasyarakatannya. berdasarkan hasil penemuan benda-benda sejarah , seorang sejarawan dapat memperkirakan fakta sosialnya.

Bukti dan fakta sejarah merupakan kumpulan peristiwa yang dipilih berdasarkantingkat keerartian dan keterkaitannya dengan proses sejarah tertentu. berbagai macam fakta yang pada awalnya berdiri sendiri direkonstruksi kembali menjadi satukesatuan yang saling berhubungan dan bermakna. berbagai peristiwa masa lalu, bahkan ratusan tahun lalu yang dapat direkonstruksi kembali berdasarkan sumber-sumber sejarah.

http://hapbiker.wordpress.com/2007/08/15/bukti-fakta-dan-sumber-sejarah/

Manfaat mempelajari sejarah adalah:

1.Kegunaan edukatif
kegunaan sejarah yang pertama adalah sebagai edukatif atau pelajaran. banyak manusia yang belajar dari sejarah.
belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan.pengalaman tidak hanya terbatas pada pengalaman yangdialaminya sendiri,
melainkan juga dari generasi sebelumnya.manusia melalui belajar dari sejarah dapat mengembangkan potensinya. kesalahan pada masa lampau, baik kesalahan sendiri maupun kesalahan orang lain coba dihindari.
smentara itu, pengalaman yangbaik justru harus ditiru dan dikembangkan. dengan demikian, manusia dalam menjalani kehidupannya tidak berdasarkan coba-coba saja (trial and error), seperti yang dilakukan oleh binatang. manusia harus berusaha menghindari kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
2.Kegunaan inspiratif
kegunaan sejarah yang kedua adalah sebagai inspiratif. berbagai kisah sejarah dapat memberikan inspirasi pada pembaca dan pendengarnya. belajar dari kebangkitan nasional yang dipeloporii oleh bedirinya organisasi perjuangan yangmodern di awal abad ke-20, masyarakat Indonesia sekarang berusaha mengembangkan kebangkitan nasional ang ke2. Pada kebangkitan nasional yang pertama, bangsa indonesia berusaha merebut kemerdekaan yang sekarang ini sudah dirasakan hasilnya.
untuk mengembangkan dan mempertahankan kemerdekaan , bangsa indonesia ingin melakukan kebangkitan nasional yang ke-2 , dengan bercita-cita mengeajar ketertionggalan dari bangsa asing. bangsa indonesia tidak hanya ingin merdeka, tetapi juga ingin menjadi bangsa yang maju, bangsa yang mampu menyejahterakan rakyatnya. untuk itu, bangsa indonesia harus giat menguasai IPTEK karena melalui IPTEK yang dikuasai, bangsa indonesia berpeluang menjadi bangsa yang maju dan disegani, serta daapat ikut serta menjaga ketertiban dunia.
3.Kegunaan rekreatif
kegunaan sejaraha yang ketiga adalah sebagai kegunaan rekreatif. kegunaan sejarah sebagai kisah dapat memberi suatu hiburan yang segar. melalui penulisan kisah sejarah yang menarik pembaca dapat terhibur. gaya penulisan yanghidup dan komunikatif dari beberapa sejarawan terasa mampu “menghipnotis” pembaca. pembaca akan merasa nyaman membaca tulisan dari seajarawan. konsekuensi rasa senang dan daya taraik penulisan kisah sejarah tersebut membuat pembaca menjadi senang. membaaca menjadi media hiburan dan rekreatif. membaca telah menjadi ibagian dari kesenangan. membaca tealah dirasakan sebagai suatu kebutuhan, yaitu kebutuhan yang untuk rekreatif.
pembaca dalam mempelajari hasil penulisan sejarah tidak hanya merasa senang layaknya membaca novel, tetapi juga dapat berimajiasi ke masa lampau. disini peran sejarawan dapat menjadi pemandu (guide). orang yang ingin melihat situasi suatu daerah di masa lampau dapat membacanya dari hasil tulisan para sejarawan.
http://hapbiker.wordpress.com/2007/08/14/manfaat-mempelajari-sejarah/

Dasar-dasar Penelitian Sejarah

A.TAHAPAN PENELITIAN SEJARAH
Pertama yang harus dilakukan adalah menentukan topik penelitian dengan tujuan agar dalam melakaukan pencarian sumber-sumber sejarah dpat terarah dan tepat sasaran.Pemilihan topik penelitian dapatdidasarakan pada unsur-unsur berikut ini:
1.Bernilai
Peristiwa sejarah yang diungkap tersebut harus bersifat unik, kekal, abadi.
2.Keaslian (Orisinalitas)
Peristiwa sejarah yang diungkap hendaknya berupa upaya pembuktian baru atau ada pandangan baru akibat munculnya teori dan metode baru
3.Praktis dan Efesien
Peristiwa sejarah yang diungkap terjangkau dalam mencari sumbernya dan mempunyai hubungan yang erat dengan peristiwa itu.
4.Kesatuan
Unsur-unsur yang dijadikan bahan penelitian itu mempunyai satu kesatuan ide.

B.LANGKAH-LANGKAH DALAM PENELITIAN SEJARAH
Setelah menentukan topik penelitian selanjutnya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1.HEURISTIK (Pengumpulan Data)
Heuristik merupakan langkah awal dalam penelitian sejarah untuk berburu dan mengumpulkan berbagi sumber data yang terkait dengan masalah yang sedeang diteliti.misalnya dengan melacak sumber sejarah tersebut dengan meneliti berbagai dokumen, mengunjungi situs sejarah, mewawancarai para saksi sejarah.
2.KRITIK (VERIFIKASI)
Kritik merupakan kemampuan menilai sumber-sumber sejarah yang telah dicari (ditemukan). Kritik sumber sejarah meliputi kritik ekstern dan kritik intern.
a.Kritik Ekstern
kritik ekstern di dalam penelitian ilmu sejarah umumnya menyangkut keaslan atau keautentikan bahan yang digunakan dalam pembuatan sumber sejarah, seperti prasasti, dokumen, dan naskah.Bentuk penelitian yang dapat dilakukan sejarawan, misalnyatentang waktu pembuatan dokumen itu (hari dan tanggal) atau penelitian tentang bahan (materi) pembuatan dokumen itu sndiri.Sejarawan dapat juga melakukan kritik ekstern dengan menyelidiki tinta untuk penulisan dokumen guna menemukan usia dokumen. Sejarawan dapat pula melakukan kritik ekstern dengan mengidentifikasikan tulisan tangan, tanda tangan, materai, atau jenis hurufnya.
b.Kritik Intern
Kritik Intern merupakan penilaian keakuratan atau keautentikan terhadap materi sumber sejarah itu sendiri. Di dalam proses analisis terhadap suatu dokumen, sejarawan harus selalu memikirkan unsur-unsur yang relevan di dalam dokumen itu sendiri secara menyeluruh. Unsur dalam dokumen dianggap relevan apabila unsur tersebut paling dekat dengan apa yang telah terjadi, sejauh dapat diketahui berdasarkan suatu penyelidikan kritis terhadap sumber-sumber terbaik yang ada.
3.INTERPRETASI (penafsiran)
Interfretasi adalah menafsirkan fakata sejarah dan merangkai fakta tersebut hingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Dari berbagi fakta yang ada kemudian perlu disusun agar mempunyai bentuk dan struktur. Fakta yang ada ditafsirkan sehingga ditemukan struktur logisnya berdasarkan fakta yang ada, untuk menghindari suatu penafsiran yang semena-mena akibat pemikiran yang sempit. Bagi sejarawan akademis, interfretasi yang bersifat deskriptif sajabelum cukup. Dalam perkembangan terakhir, sejarawan masih dituntut untuk mencari landasan penafsiran yang digunkan.
4.HISTORIOGRAFY (Penulisan Sejarah)
Historiogray adalah oses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan penafsiran terhadap data-data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu bukan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibavca orang lain. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisan nya. Sejarawan harus menyadari dan berusaha agar orang lain dapat mengerti pokok-pokok pemikiran yang diajukan.

PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PENELITIAN SEJARAH LISAN.
Metode sejarah lisan adalah suatu metode pengumpulan data atau bahan guna penulisan sejarah yang dilakukan sejarawan melalui wawancara terhadap para pelaku sejarah yang ingin diteliti. Di Indonesia metode wawancara dalam penulisan sejarah mulai dikembangkan dengan diawali adanya proyek sejarah lisan yang ditangani oleh Badan Arsip Nasional.
Berkembangnya metode wawancara dalam penulisan sejarah di Indonesia dilatarbelakangi oleh sulitnya menemukan jejak masa lampau berupa dokumen yang sezaman serta makin berkembangnya perhatian studi sejarah yangmengarah ke subyek masyarakat berupa orng kecil dalam peristiwa kecil yang biasanya tidak meninggalkan jejak berupa dokumen.
Wawancara adalah kegiatan melakukan tanya jawab dengan narasumber untuk mendapatkan keterangan tertentu. Wawacara merupakan teknik pengumpulan data yang amat penting dalam penelitian survey selain teknik utama berupa Observasi. Oleh karena itu, dalam penelitian survei, teknik wawancara merupakan pembantu utama dari metode Observasi.

Teknik pengumpulan data dengan wawancara terbagi menjadi tiga macam:
1.Poll Type Interview
Wawancara dialkukan dengan cara mengajukan pertanyaan dengan jawabanyang etalah ditentukan, narasumber tinggal memilih jawaban yang ada.
2.Open Type Interview
Wawancara dilakuakn dengan cara pertanyaan ditentukan terlebih dahulu, sedangkan narasumber dapat menjawab bebas.
3.Nonstructured Interview
Wawancara dilakukan dengan cara pertanyaan ataupun jawaban tidak ditentukan sebelumnya.
Teknik wawancara merupakan teknik yang bersifat pelengkap artinya wawancara digunakan untuk melengkapi data atau informasi yang berasal dari sumber dokumen. amun apabila dumber dokumen tidak ada barulah informasi hasil wawancara dapat dianggap sebagai bahan pokok penelitian.

Beberapa persiapan sebelum melakukan wawancara antara lain:
1.seleksi individu untuk diwawancarai
2.pendekatan terhadap orang yang akan diwawancarai
3.mengembangkan suasana lancar dalam wawancara
mempersiapkan pokok masalah yang akan dikemukakan (ditanyakan)

sumber tulisan :

http://hapbiker.wordpress.com/2007/11/27/tahapan-tahapan-dalam-penelitian-sejarah/

Kamis, 04 Juni 2009

Mata Pelajaran : Sejarah Kelas/Semester : X/1 Standar Kompetensi : 1. Memahami Prinsip Dasar Ilmu Sejarah Kompetensi Dasar : 1.2. Menjelaskan Tradisi Sejarah dalam Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan Masa Aksara Indikator : Mengidentifikasi jejak sejarah di dalam folklore, mitologi, legenda, upacara, dan nyanyian rakyat dari berbagai daerah di Indonesia Alokasi Waktu : 1x45 menit Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu untuk: Mengidentifikasi jejak sejarah di dalam folklore Mengidentifikasi jejak sejarah di dalam mitologi Mengidentifikasi jejak sejarah di dalam legenda Mengidentifikasi jejak sejarah di dalam nyanyian rakyat Mengidentifikasi jejak sejarah di dalam upacara Materi Pembelajaran Folklore Mitologi Legenda Nyanyian rakyat Upacara Metode Pembelajaran Ceramah, diskusi Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan Pertama Kegiatan Pendahuluan Apersepsi guru menanyakan pada peserta didik mengenai mitologi Nyai Roro Kidul. Menyampaikan tujuan pembelajaran. Kegiatan Inti Guru menjelaskan materi dengan transparansi peta konsep mengenai folklore, mitologi, legenda, upacara, dan nyanyian rakyat dari berbagai daerah di Indonesia (hal 36 - 47). Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat orang siswa untuk mendiskusikan mengenai mite, legenda, nyanyian rakyat, dan upacara yang ada di daerah asalnya dan fakta sejarah apa yang terkandung di dalamnya (Aktivitas hal 47). Kegiatan Penutup Bersama-sama melakukan refleksi materi yang telah dibahas. Menarik kesimpulan materi. Sumber Belajar Kurikulum KTSP dan perangkatnya Pedoman Khusus Pengembangan Silabus KTSP SMA - Buku sumber Sejarah SMA – (hal 36 - 47) Peta konsep OHP Buku-buku penunjang yang relevan Internet Penilaian Unjuk kerja dalam bentuk diskusimengenai mite, legenda, nyanyian rakyat, dan upacara yang ada di daerah asal peserta didik dan fakta
http://www.sman2-pontianak.sch.id/filesharing/index.php?action=downloadfile&filename=3.%20RPP%20SEJARAH.doc&directory=public_downloads/Menghadapi%20ujian%20nasional/Sejarah&PHPSESSID=195d2f17897fe2f51f541d6cdf23bdd6
Mata Pelajaran : Sejarah Kelas/Semester : X/1 Standar Kompetensi : 1. Memahami Prinsip Dasar Ilmu Sejarah Kompetensi Dasar : 1.2. Menjelaskan Tradisi Sejarah dalam Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan Masa Aksara Indikator : - Menjelaskan cara masyarakat masa prasejarah mewariskan masa lalunya Mengidentifikasi tradisi masyarakat masa prasejarah Alokasi Waktu : 1x45 menit Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu untuk: Menjelaskan cara masyarakat masa prasejarah mewariskan masa lalunya Menyebutkan ciri-ciri tradisi lisan Mengidentifikasi tradisi masyarakat masa prasejarah pada sistem kepercayaan, mata pencaharian, kemasyarakatan, budaya dan seni, dan pengetahuan Materi Pembelajaran Cara masyarakat masa prasejarah mewariskan masa lalunya Tradisi lisan Tradisi masyarakat masa prasejarah pada sistem kepercayaan, mata pencaharian, kemasyarakatan, budaya dan seni, dan pengetahuan Metode Pembelajaran Pendekatan model ICT dan life skill Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan Pertama Kegiatan Pendahuluan Apersepsi guru menanyakan pada peserta didik mengenai pengertian masa prasejarah. Menyampaikan tujuan pembelajaran. Kegiatan Inti Guru menjelaskan materi dengan transparansi peta konsep mengenai cara masyarakat masa prasejarah mewariskan masa lalunya (hal 28). Guru menerangkan dengan singkat mengenai unsur-unsur tradisi dan sistem kebudayaan manusia (hal 32). Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan unjuk kerja diskusi secara kelompok mengenai tradisi masyarakat masa prasejarah (Aktivitas hal 36). Peserta didik ditugaskan membuat uraian analisis mengenai tradisi bercerita di daerahnya. Tugas dikumpulkan pada pertemuan berikutnya (Aktivitas hal 32). Kegiatan Penutup Bersama-sama melakukan refleksi materi yang telah dibahas. Menarik kesimpulan materi. Sumber Belajar Kurikulum KTSP dan perangkatnya Pedoman Khusus Pengembangan Silabus KTSP SMA - Buku sumber Sejarah SMA – Peta konsep OHP Buku-buku penunjang yang relevan Internet Penilaian Unjuk kerja dalam bentuk diskusi mengenai tradisi masyarakat masa prasejarah (Aktivitas hal 36). Portofolio dalam bentuk uraian analisis mengenai tradisi bercerita di daerahnya. Lembar Penilaian Diskusi
http://www.sman2-pontianak.sch.id/filesharing/index.php?action=downloadfile&filename=3.%20RPP%20SEJARAH.doc&directory=public_downloads/Menghadapi%20ujian%20nasional/Sejarah&PHPSESSID=195d2f17897fe2f51f541d6cdf23bdd6
Mata Pelajaran : Sejarah Kelas/Semester : X/1 Standar Kompetensi : 1. Memahami Prinsip Dasar Ilmu Sejarah Kompetensi Dasar : 1.1. Menjelaskan Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah Indikator : Memberikan contoh pengertian generalisasi, periodisasi, dan kronologi Alokasi Waktu : 1x45 menit Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu untuk: Menjelaskan pengertian generalisasi, periodisasi, dan kronologi Menjelaskan suatu kejadian termasuk ke dalam generalisasi, periodisasi, dan kronologi sejarah Memberikan contoh tentang generalisasi, periodisasi, dan kronologi Materi Pembelajaran Pengertian generalisasi, periodisasi, dan kronologi Metode Pembelajaran Ceramah, pemberian tugas penyusunan kronologi dan peta konsep, tanya jawab Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Apersepsi guru menayangkan gambar pertumbuhan manusia dari bayi sampai dewasa disertai dengan peristiwa yang dialami manusia tersebut dan menanyakan kepada siswa maksud dari gambar tersebut. Menyampaikan tujuan pembelajaran. Kegiatan Inti Guru menjelaskan materi generalisasi, periodisasi, dan kronologi (hal 14 – 18). Guru memperlihatkan contoh kronologi dari peristiwa-peristiwa bersejarah di Indonesia (skema hal 17). Peserta didik menyusun periodisasi hidup sejak lahir sampai saat ini dalam bentuk garis waktu pada selembar kertas (Aktivitas hal 18). Tanya jawab tentang generalisasi, periodisasi, dan kronologi. Kegiatan Penutup Bersama-sama melakukan refleksi materi yang telah dibahas. Menarik kesimpulan materi. Sumber Belajar Kurikulum KTSP dan perangkatnya Pedoman Khusus Pengembangan Silabus KTSP SMA - Buku sumber Sejarah SMA – (hal 14 – 18) Peta konsep OHP Buku-buku penunjang yang relevan Internet Penilaian Portofolio dengan menyusun periodisasi hidup Penilaian peta konsep Format Penilaian Penyusunan Periodisasi Hidup  Nama Peserta DidikAspek yang dinilaiNilai KualitatifNilai KuantitatifStruktur/logika dan keakuratan penulisan periodisasi hidupOrisinalitas periodisasi hidupKreativitas bentuk Penggunaan warnaJumlah Nilai 
http://www.sman2-pontianak.sch.id/filesharing/index.php?action=downloadfile&filename=3.%20RPP%20SEJARAH.doc&directory=public_downloads/Menghadapi%20ujian%20nasional/Sejarah&PHPSESSID=195d2f17897fe2f51f541d6cdf23bdd6

Zaman Pra Aksara dan Pra Sejarah

Pengertian Masa Pra Aksara
Masa pra aksara atau biasa disebut masa prasejarah
adalah masa kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan.
Manusia yang diperkirakan hidup pada masa pra aksara
adalah manusia purba. Pada masa ini, kita tidak dapat
mengetahui sejarah serta kebudayaan manusia melalui
tulisan. Satu-satunya sumber untuk mengetahui kehidupan
manusia purba hanya melalui peninggalan-peninggalan
mereka yang berupa fosil, alat-alat kehidupan, dan fosil
tumbuh-tumbuhan maupun hewan yang hidup dan
berkembang pada masa itu.


Zaman pra aksara berlangsung sangat lama, yaitu sejak
manusia belum mengenal tulisan hingga manusia mulai
mengenal dan menggunakan tulisan. Zaman manusia
mengenal dan menggunakan tulisan disebut zaman aksara
atau zaman sejarah.
Zaman pra aksara di Indonesia berlangsung sampai
abad ke-3 Masehi. Jadi, pada abad ke-4 Masehi, manusia
Indonesia baru mulai mengenal tulisan. Hal ini dapat
diketahui dari batu bertulis yang terdapat di Muara Kaman,
Kalimantan Timur. Meskipun prasasti tersebut tidak berangka
tahun, tetapi bahasa dan bentuk huruf yang digunakan
menunjukkan bahwa prasasti tersebut dibuat kurang lebih
tahun 400 Masehi.
Tabir perkembangan kehidupan masyarakat pra aksara
Indonesia, dapat diketahui dalam pembabakan zaman pra
aksara berdasarkan arkeologi dan ciri kehidupan masyarakat.
1. Pembabakan zaman pra aksara berdasarkan
arkeologi
Zaman pra aksara berdasarkan penggalian arkeologi,
dapat dibagi menjadi dua zaman sebagai berikut.
Pengertian Masa Pra Aksara




Masa Pra Aksara di Indonesia

a. Zaman batu
Zaman batu menunjuk pada suatu
periode di mana alat-alat kehidupan
manusia terbuat dari batu, meskipun
ada juga alat-alat tertentu yang terbuat
dari kayu dan tulang. Tetapi, pada
zaman ini secara dominan alat-alat
yang digunakan terbuat dari batu.
Dari alat-alat peninggalan zaman batu tersebut, maka
zaman batu dibedakan lagi menjadi tiga periode sebagai
berikut.
1) Zaman batu tua (Palaeolithikum)
Zaman batu tua merupakan suatu masa di mana hasil
buatan alat-alat dari batunya masih kasar dan belum
diasah sehingga bentuknya masih sederhana. Misalnya,
kapak genggam. Hasil kebudayaan Palaeolithikum
banyak ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong
Jawa Timur.
2) Zaman batu madya (Mesolithikum)
Zaman batu madya merupakan masa peralihan di
mana cara pembuatan alat-alat kehidupannya lebih
baik dan lebih halus dari zaman batu tua. Misalnya,
pebble/kapak Sumatera.
3) Zaman batu muda (Neolithikum)
Zaman batu muda merupakan suatu masa di mana
alat-alat kehidupan manusia dibuat dari batu yang
sudah dihaluskan, serta bentuknya lebih sempurna
dari zaman sebelumnya. Misalnya, kapak persegi
dan kapak lonjong.








b. Zaman logam


Dengan dimulainya zaman logam, bukan berarti ber-
akhirnya zaman batu, karena pada zaman logampun
alat-alat dari batu terus berkembang bahkan sampai
sekarang. Sesungguhnya, nama zaman
logam hanyalah untuk menyatakan
bahwa pada zaman tersebut alat-alat
dari logam telah dikenal dan digunakan
secara dominan.
Perkembangan zaman logam di Indo-
nesia berbeda dengan yang ada di
Eropa, karena zaman logam di Eropa
mengalami tiga pembagian zaman,
yaitu zaman tembaga, zaman perunggu,
dan zaman besi. Sedangkan di Indonesia khususnya dan
Asia Tenggara umumnya tidak mengalami zaman
tembaga tetapi langsung memasuki zaman perunggu
dan besi secara bersamaan. Dan hasil temuan yang lebih
dominan adalah alat-alat dari perunggu sehingga zaman
logam disebut juga dengan zaman perungggu.
2. Pembabakan zaman pra aksara berdasarkan ciri
kehidupan mayarakat
Zaman pra aksara di Indonesia berdasarkan ciri kehi-
dupan masyarakat, dibagi dalam empat babak, yaitu masa
berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana,
masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut,
masa bercocok tanam, dan masa perundagian.
a. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat
sederhana
Pada masa ini, kehidupan manusia hanya terpusat pada
upaya mempertahankan diri di tengah-tengah alam yang
penuh tantangan, dengan kemampuannya yang masih
sangat terbatas. Kegiatan pokoknya adalah berburu dan
mengumpulkan makanan, dengan peralatan dari batu,
kayu, dan tulang. Kehidupan manusia masih sangat
tergantung pada alam lingkungan sekitarnya.
1) Keadaan lingkungan
Kepulauan Indonesia terletak di antara dua benua,
yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Ada pengaruh
iklim dan pengaruh penyebaran hewan, manusia,
dan kebudayaan, sebagai akibat pernah bergabung-
nya Indonesia dengan kedua benua tersebut.
Tepi pantai, sungai, danau, atau tempat-tempat
yang banyak air dan bahan makanan merupakan
tempat tinggal manusia purba. Mereka mendapatkan
makanan secara langsung dari alam, tanpa melalui
proses, baik dalam mengumpulkan sampai pada cara
makan.
Keberadaan manusia

Penelitian khusus tentang fosil manusia purba
(Palaeoanthropologi) di Indonesia, dibagi dalam tiga
tahapan, yaitu tahun 1889-1909, tahun 1931-1941,
dan tahun 1952-sekarang.
a) Penelitian tahap I pada tahun 1889-1909 dilaku-
kan oleh Dr. Eugene Dubois, yang menduga
bahwa manusia purba
hidupnya pasti di daerah
tropis. Dubois menemu-
kan fosil sepotong tulang
kobi yang bisa menanda-
kan bahwa pemiliknya
berjalan tegak, di Trinil
dekatNgawi. Fosil tersebut
adalah Pithecanthropus
Erectus. Pada masa ini,
ditemukan pula fosil
manusia Wajak di daerah
Kediri Jawa Timur, dan penemuan manusia purba
di Kedungtrubus. Seluruh temuan Dubois tentang
manusia purba di Indonesia adalah fosil-fosil
tengkorak, ruas leher, rahang, gigi, tulang paha,
dan tulang kering.
b) Penelitian tahap II antara 1931-1941 dilakukan
oleh Ter Haar, Oppenoorth, dan Von Koeningswald.
Mereka menemukan tengkorak dan tulang kering
Pithecanthropus Soloensis di Ngandong Kabupaten
Blora. Juga tahun 1936 Tjokrohandojo menemukan
fosil tengkorak anak-anak di utara Mojokerto.
Antara tahun 1936-1941, Von Koeningswald
menemukan fosil-fosil rahang, gigi, dan tengkorak
di Sangiran Surakarta
c) Penelitian tahap III, sebagian besar penemuan di
Sangiran, yang menemukan bagian-bagian tubuh
Pithecanthropus yang belum pernah ditemukan
sebelumnya, seperti tulang muka dan dasar
tengkorak.
Ada beberapa jenis manusia purba di Indonesia,
yaitu sebagai berikut.
Meganthropus

Meganthropus Palaeojavanicus adalah manusia
paling primitif yang pernah ditemukan di Indone-
sia oleh Von Koeningswald tahun 1936 dan 1941
di formasi Pucangan, Sangiran. Fosil yang ditemukan
tersebut berupa rahang manusia purba yang
berukuran besar. Dari hasil penelitian disimpulkan
bahwa jenis manusia tersebut bertubuh sangat
besar. Fragmen rahang bawah lain ditemukan
oleh Marks pada tahun 1952 di lapisan terbawah
formasi Kabuh.
b) Pithecanthropus Erectus

Fosil Pithecanthropus adalah fosil manusia yang
paling banyak ditemukan di Indonesia, yaitu di
Mojokerto, Kedungtrubus, Trinil, Sangiran, Sam-
bungmacan, dan Ngandong. Bentuk tubuh Pithe-
canthropus tidak setegap Meganthropus. Tingginya
kira-kira 165-180 cm. Fosil Pithecanthropus
Erectus saat saling dihubungkan membentuk
sebuah kerangka yang mirip kera. Maka Pithecan-
thropus Erectus berarti manusia kera yang
berjalan tegak.

c) Homo

Homo Sapiens Wajak I ditemukan dekat Campur-
darat Tulungagung Jawa Timur oleh Van
Rietschoten tahun 1889, terdiri atas
tengkorak, termasuk fragmen rahang
bawah, dan beberapa buah ruas leher.
Temuan tersebut diselidiki pertama kali
oleh Dubois. Homo Sapiens Wajak II
ditemukan oleh Dubois tahun 1890 di
tempat yang sama, terdiri atas fragmen-
fragmen tulang tengkorak, rahang atas
dan rahang bawah, serta tulang paha
dan tulang kering.
3) Teknologi
Teknologi pada masa berburu dan mengumpulkan
makanan tingkat sederhana, hanya mengutamakan
segi praktis sesuai dengan tujuan penggunaannya
saja, namun lama kelamaan ada penyempurnaan
bentuk.
Di Indonesia dikenal dua macam teknik pokok, yaitu
teknik pembuatan perkakas batu yang disebut tradisi
kapak perimbas dan tradisi serpih. Pada perkem-
bangan berikutnya ditemukan alat-alat dari tulang
dan tanduk. Movius menggolongkan alat-alat dari
batu sebagai perkakas zaman pra aksara, yaitu kapak
perimbas, kapak penetak, pahat genggam, proto
kapak genggam, dan kapak genggam.
4) Kehidupan sosial
Manusia purba semenjak Pithecanthropus hingga
Homo Sapiens dari Wajak, menggantungkan kehidup-
annya pada kondisi alam. Daerah sekitar tempat
tinggalnya harus dapat memberikan persediaan
makanan dan air yang dapat menjamin kelang-
sungan hidupnya.
Mereka hidup berkelompok dengan pembagian
tugas, bahwa yang laki-laki ikut kelompok berburu
dan yang perempuan mengumpulkan makanan dari
tumbuhan dan hewan-hewan kecil. Selain itu,
mereka juga bekerjasama dalam rangka menanggulangi
serangan binatang buas maupun adanya bencana
alam yang sewaktu-waktu dapat mengusik kehidupan
merekaAlat-alat yang dibuat dari batu, kayu, tulang, dan
tanduk terus-menerus mengalami penyempurnaan
bentuk, sesuai dengan perkembangan alam pikiran
mereka.
b. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat
lanjut
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan
tingkat lanjut, di Indonesia sudah ada usaha-usaha untuk
bertempat tinggal secara tidak tetap di gua-gua alam,
utamanya di gua-gua payung, yang setiap saat mudah
untuk ditinggalkan, jika dianggap sudah tidak memung-
kinkan lagi tinggal di tempat itu.
1) Keadaan lingkungan
Api sudah dikenal sejak sebelumnya, karena sangat
bermanfaat untuk berbagai keperluan hidup, seperti
untuk memasak makanan, sebagai penghangat
tubuh, dan untuk menghalau binatang buas pada
malam hari.
Terputusnya hubungan kepulauan Indonesia dengan
Asia Tenggara pada akhir masa glasial keempat,
terputus pula jalan hewan yang semula bergerak
leluasa menjadi lebih sempit dan terbatas, dan ter-
paksa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Tumbuh-tumbuhan yang mula-mula ditanam adalah
kacang-kacangan, mentimun, umbi-umbian dan biji-
bijian, seperti juwawut, padi, dan sebagainya.
2) Keberadaan manusia
Ada dua ras yang mendiami Indonesia pada
permulaan Kala Holosin, yaitu Austromelanesoid
dan Mongoloid. Mereka berburu kerbau, rusa, gajah,
dan badak, untuk dimakan.
Di bagian barat dan utara ada sekelompok populasi
dengan ciri-ciri terutama Austromelanesoid dengan
hanya sedikit campuran Mongoloid. Sedangkan di
Jawa hidup juga kelompok Austromelanesoid yang
lebih sedikit lagi dipengaruhi oleh unsur-unsur
Mongoloid. Lebih ke timur lagi, yaitu di Nusa Tenggara
sekarang, terdapat pula Austromelanesoid
3) Teknologi
Ada tiga tradisi pokok pembuatan alat-alat pada
masa Pos Plestosin, yaitu tradisi serpih bilah, tradisi
alat tulang, dan tradisi kapak genggam Sumatera.
Persebaran alatnya meliputi Pulau Sumatera, Jawa,
Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.
Alat tulang ditemukan di Tonkin Asia Tenggara,
sedangkan di Jawa ditemukan di Gua Lawa
Semanding Tuban, di Gua Petpuruh utara Prajekan,
dan Sodong Marjan di Besuki. Kapak genggam
Sumatera ditemukan di daerah pesisir Sumatera
Utara, yaitu di Lhok Seumawe, Binjai, dan Tamiang.
4) Masyarakat
Manusia yang hidup pada masa berburu
dan mengumpulkan makanan tingkat
lanjut, mendiami gua-gua terbuka atau
gua-gua payung yang dekat dengan
sumber air atau sungai sebagai sumber
makanan, berupa ikan, kerang, siput, dan
sebagainya. Mereka membuat lukisan-
lukisan di dinding gua, yang menggambar-
kan kegiatannya, dan juga kepercayaan
masyarakat pada saat itu.
c. Masa bercocok tanam
Perubahan dari masa berburu dan mengumpulkan
makanan tingkat lanjut ke masa bercocok tanam, mema-
kan waktu yang sangat panjang, karena tingkat kesulitan
yang tinggi. Pada masa ini sudah mulai ada usaha
bertempat tinggal menetap di suatu perkampungan yang
terdiri atas tempat tinggal-tempat tinggal sederhana
yang didiami secara berkelompok. Mulai ada kerjasama
dan peningkatan unsur kepercayaan yang diharapkan
adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan
ketenteraman hidupnya.
1) Manusia
Manusia yang hidup pada masa bercocok tanam di
Indonesia Barat mendapat pengaruh besar dari ras
Mongoloid, sedangkan di Indonesia Timur sampai
sekarang lebih dipengaruhi oleh komponen Austro-
melanesoid.


Ringkasan
Masa pra aksara adalah masa manusia sebelum mengenal tulisan. Namun,
kehidupan manusia pada masa itu tetap dapat diketahui dari beberapa
peninggalan yang diketemukan.
Manusia purba, yaitu jenis manusia yang hidup pada zaman pra aksara,
yaitu Meganthropus, Pithecanthropus Erectus, dan Homo.
Di Trinil pernah ditemukan fosil tengkorak manusia purba oleh Dubois
pada tahun 1891, di daerah Mojokerto pada tahun 1936, dan di Sangiran
tepi Bengawan Solo pada tahun 1931-1933.
Manusia paling primitif yang pernah ditemukan di Indonesia adalah
Meganthropus Palaeojavanicus, yang ditemukan Von Koeningswald tahun
1936 dan 1941.
Zaman pra aksara di Indonesia berdasarkan arkeologis, dibagi menjadi 2
zaman, yaitu zaman batu dan zaman logam. Zaman batu meliputi zaman
batu tua, zaman batu madya, dan zaman batu muda.
Zaman pra aksara di Indonesia berdasarkan ciri kebudayaan masyarakat
dibagi dalam empat babak, yaitu masa berburu dan mengumpulkan
makanan tingkat sederhana, masa berburu dan mengumpulkan makanan
tingkat lanjut, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana,
kegiatan pokoknya adalah berburu dan mengumpulkan makanan dengan
peralatan dari batu, kayu, dan tulang.
Manusia yang hidup pada masa berburu dan mengumpulkan makanan
tingkat lanjut, mendiami gua-gua terbuka yang dekat dengan sumber air
dan sumber makanan.
Pada masa bercocok tanam sudah mulai ada usaha bertempat tinggal
menetap di suatu perkampungan yang terdiri atas tempat tinggal-tempat
tinggal sederhana yang didiami secara berkelompok.
Pada masa perundagian, mulai ditemukan bijih-bijih logam sehingga
berbagai peralatan mulai dibuat dari logam
Kelompok manusia sudah lebih besar, karena hasil
pertanian dan peternakan sudah dapat memberi
makan sejumlah orang yang lebih besar pula. Jumlah
anak yang banyak sangat menguntungkan, karena
mereka dapat menghasilkan makanan yang lebih
banyak pula.
2) Teknologi
Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira
bersamaan dengan berkembangnya kemahiran
mengasah alat dari batu dan mulai dikenalnya
teknologi pembuatan gerabah. Alat yang terbuat dari
batu dan biasa diasah adalah beliung, kapak batu,
mata anak panah, mata tombak, dan sebagainya. Di
antara alat batu yang paling terkenal adalah beliung
persegi.
3) Kehidupan masyarakat
Masyarakat mulai meninggalkan cara-cara berburu
dan mengumpulkan makanan. Mereka sudah menun-
jukkan tanda-tanda akan menetap di suatu tempat,
dengan kehidupan baru, yaitu mulai bercocok tanam
secara sederhana dan mulai memelihara hewan.
Proses perubahan tata kehidupan yang ditandai
dengan perubahan cara memenuhi kebutuhan hidup
masyarakat, terjadi secara perlahan-lahan, namun
pasti.
Demikian pula dengan tempat tinggal, dari yang
masih sangat sederhana berbentuk bulat dengan atap
dan dinding dari rumbai, perlahan-lahan berubah
sedikit demi sedikit kepada bentuk yang lebih maju
dengan daya tampung yang lebih banyak, untuk
menampung keluarga mereka. Gotong-royong
merupakan suatu kewajiban yang memang diperlu-
kan untuk pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan
tenaga orang banyak, seperti mendirikan rumah dan
membersihkan saluran air untuk bercocok tanam.
Masyarakat merasa bahwa tanah merupakan kunci
dari kehidupan. Oleh karena itu, mereka meningkat-
kan manfaat kegunaan tanah, termasuk penguasaan
terhadap binatang-binatang peliharaan. Yang jelas
mereka sudah tidak lagi tergantung pada alam.
Mereka sudah mengadakan perubahan-perubahan
dengan menganggap sebagai pemilik atas unsur-
unsur yang mengelilinginya.
4) Pemujaan roh nenek moyang
Pemujaan roh leluhur maupun kepercayaan terhadap
adanya kekuatan gaib menjadi adat kebiasaan
masyarakat saat itu. Kebiasaan semacam itu lazim
disebut animisme dan dinamisme. Sudah mulai ada
kepercayaan tentang hidup sesudah mati,
bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat
orang meninggal. Upacara pemakaman
dilakukan sedemikian rupa agar roh yang
meninggal tidak salah jalan menuju nenek
moyang mereka.
Tradisi mendirikan bangunan megalitik
(batu besar) muncul berdasarkan keper-
cayaan adanya hubungan antara yang
hidup dengan yang mati. Terutama karena
adanya pengaruh yang kuat dari yang telah
mati terhadap kesejahteraan masyarakat
dan kesuburan tanaman
d. Masa perundagian
Pada masa bercocok tanam, manusia sudah berusaha
bertempat tinggal menetap dengan mengatur kehidupan
untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, yaitu meng-
hasilkan bahan makanan sendiri, baik di bidang pertanian
maupun peternakan. Pada masa perundagian, semuanya
mengalami kemajuan dan penyempurnaan. Pada masa
ini mulai ditemukan bijih-bijih logam sehingga berbagai
peralatan mulai dibuat dari logam.
Pada perkembangan berikutnya, perlu dibedakan golongan
yang terampil dalam melakukan jenis usaha tertentu,
misalnya terampil dalam membuat rumah kayu, pem-
buatan gerabah, pembuatan benda-benda dari logam,
perhiasan, dan lain sebagainya.
1) Penduduk
Manusia yang bertempat tinggal di Indonesia pada
masa ini dapat diketahui dari berbagai penemuan
sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, antara lain di
Anyer Utara Jawa Barat, Puger Jawa Timur, Gilimanuk
Bali, dan Melolo Sumba Timur. Pada masa perundagian
ini perkampungan sudah lebih besar, karena adanya
hamparan pertanian, dan mereka kemudian mulai
mengadakan aktivitas perdagangan.
2) Teknologi
Pada masa perundagian ini, teknologi berkembang
sangat pesat, sebagai akibat adanya penggolongan-
penggolongan dalam masyarakat. Dengan beban
pekerjaan tertentu, banyak jenis pekerjaan yang
mempunyai disiplin tersendiri sehingga semakin
beraneka ragam perkembangan teknologi yang
terjadi pada masa itu. Termasuk perkembangan
perdagangan dan pelayaran.
Teknologi yang berkembang seiring dengan per-
kembangan kebutuhan, nampaknya menyangkut
dan melibatkan berbagai bidang yang lain. Saat itu
juga sedang berkembang teknologi peleburan,
pencampuran, penempaan, dan pencetakan berbagai
jenis logam yang dibutuhkan oleh manusia.
Di Indonesia, berdasarkan temuan-temuan arkeologis,
penggunaan logam sudah dimulai beberapa abad
sebelum masehi, yaitu penggunaan perunggu dan
besi. Secara berangsur-angsur dan bertahap, peng-
gunaan kapak batu diganti dengan logam. Namun
logam tidak mudah menggeser peranan gerabah
yang masih tetap bertahan karena memang tidak
semuanya dapat digantikan dengan logam.
3) Kehidupan sosial budaya
Seni ukir dan seni hias yang diterapkan pada benda-
benda megalitik mengalami kemajuan yang pesat.
Sedangkan yang sangat menonjol pada masa per-
undagian ini adalah kepercayaan kepada arwah
nenek moyang, karena dipercaya sangat besar
pengaruhnya terhadap perjalanan hidup manusia
dan masyarakatnya. Oleh karena itu, arwah nenek
moyang harus diperhatikan dan dipuaskan melalui
upacara-upacara. Kehidupan dalam masyarakat
masa perundagian adalah hidup yang penuh rasa
setia kawan. Perasaan solidaritas ini tertanam dalam
hati setiap orang sebagai warisan dari nenek moyang
http://deenet-makalah.blogspot.com/2008/12/zaman-pra-aksara-dan-pra-sejarah.html